MASALAH RUMAH TANGGA DAN CARA
MENGATASINYA
1. PENGHASILANPenghasilan suami lebih besar dari penghasilan istri adalah hal yang biasa.Namun, bila yang terjadi kebalikannya, penghasilan sang istri yang lebih besar, bisa-bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tidak dihargai penghasilannya, sementara istri pun merasa dirinya berada di atas, sehingga jadi sombong dan tidak hormat lagi pada pasangannya.
2. ANAK
Ketidak hadiran anak di tengah-tengah keluarga juga sering menimbulkan konflik berkepanjangan antara suami-istri. Apalagi jika suami selalu menyalahkan istri sebagai pihak yang mandul.Padahal, butuh pembuktian medis untuk menentukan apakah seseorang memang mandul atau tidak.
3. KEHADIRAN PIHAK LAIN
Kehadiran orang ketiga, misalnya adik ipar ataupun famili yang lain, keluarga kadang kala juga bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Hal sepele yang seharusnya tidak diributkan bisa berubah menjadi masalah besar.Misalnya soal pemberian uang saku kepada adik ipar oleh suami yang tidak transparan.
4. SEKS
Masalah yang satu ini sering kali menjadi sumber keributan suami-istri. Biasanya yang sering complain adalah pihak suami yang tak puas dengan layanan istri. Suami seperti ini umumnya memang egois dan tidak mau tahu. Padahal, banyak hal yang menyebabkan istri bersikap seperti itu. Bisa karena letih, stress atau pun hamil.
5. KEYAKINAN
Biasanya, pasangan yang sudah berikrar untuk bersatu sehidup-semati tidak mempersoalkan masalah keyakinan yang berbeda antara mereka.Namun, persoalan biasanya akan timbul mana kala mereka mulai menjalani kehidupan berumah tangga. Mereka baru sadar bahwa perbedaan tersebut sulit disatukan. Masing-masing membenarkan keyakinan-nya dan berusaha untuk menarik pasangan-nya agar mengikutinya. Meski tak selalu, hal ini sering kali terjadi pada pasangan suami-istri yang berbeda keyakinan, sehingga keributan pun tak dapat terhindarkan.
6. MERTUA
Kehadiran mertua yang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anak dan menantunya sering kali menjadi sumber konflik.
7. RAGAM PERBEDAAN
Menyatukan dua hati, berarti menyatukan dua kepribadian dan selera yang juga berbeda. Misalnya suami seorang yang pendiam, sementara istri cerewet dan meledak-ledak emosinya. Suami senang makanan manis, istri senang makanan yang serba pedas. Nah, kedua pribadi ini bila disatukan biasanya tidak nyambung, belum lagi soal hobi atau kesenangan. Suami hobi berlibur kepantai, sementara istri lebih suka berlibur di tempat yang ramai. Masing-masing tidak ada yang mau ngalah, akhirnya ribut juga.
8. KOMUNIKASI TERBATAS
Pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk biasanya memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi. Paling-paling mereka bertemu saat hendak tidur, sarapan pagi atau di akhir pekan. Terkadang, untuk makan malam bareng pun terlewat-kan begitu saja. Kurang-nya atau tidak adanya waktu untuk saling berbagi dan berkomunikasi ini sering kali menimbulkan salah pengertian. Suami tidak tahu masalah yang dihadapi istri, demikian juga sebaliknya. Akhirnya, ketika bertemu bukannya saling mencurah-kan kasih sayang, namun malah cekcok.
KESIMPULAN
Walau penghasilan istri lebih besar dari suami,
sebagai istri harus tetap hormat dan menghargai penghasilan suami karena suami
sudah bekerja keras. Ketidak hadiran anak bukan kesalahan istri maupun suami namun
harus diperiksakan kedokter apakah salah
satu dari mereka mandul atau tidak. Dan dalam rumah tangga kita sebagai suami
maupun istri harus saling terbuka tidak boleh saling menutupi seperti kekurangan,kelebihan,ataupun
ada masalah kecil maupun besar harus saling mengungkapkan perasannya agar
masalah tersebut cepat diselesaikan.
Perbedaan kepribadian dan selera antara suami dan
istri biasanya membuat suasana rumah
menjadi kacau yaitu ribut karene hal yang sepele seperti suami suka kepantai
sedangkan istri suka ketempat yang ramai. Jika hal tersebut tidak ada yang
saling mengalah maka keadaan didalam rumah tangga menjadi seperti di neraka.
Didalam rumah tangga harus saling berkomunikasi baik
agar terciptalah keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, jika didalam rumah
tangga tidak ada cekcok keluarga merasa nyaman dan tentram.
SARAN
Walaupun penghasilan Anda lebih besar dari suami, cobalah untuk bersikap bijaksana dan tetap menghormatinya. Hargai berapa pun
penghasilannya, sekalipun secara nominal memang sedikit. Pasalnya, jika Anda terus menerus mempersoalkan penghasilan suami,
persoalan biasa malah semakin besar.Daripada membiarkan masalah tersebut berlarut terus-menerus, lebih baik bicarakan dengan suami.Ajaklah suami untuk bersama memeriksakan kedokter. Jika dokter mengatakan bahwa Anda dan suami sehat, berarti kesabaran Anda dan pasangan tengah diuji oleh yang Maha Kuasa. Namun, bila memang sudah bertahun-tahun kehadiran sikecil belum datang juga, Anda dan suami bisa menempuh cara lain, misalnya dengan adopsi anak.
Keterbukaan adalah soal yang utama. Sebelum Anda dan suami memberikan bantuan, baik kepihak Anda ataupun suami, sebaiknya terlebih dulu dibicarakan, berapa dana yang akan dikeluarkan, dan siapa saja yang bias dibantu. Dan ini harus atas dasar kesepakatan bersama.Agar jangan saling curiga, adakan sistemsilang. Artinya, untuk bantuan kepada keluarga Anda, suami-lah yang memberikan, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian, semuanya akan transparan dan tidak ada lagi jalan belakang.
Istri atau suami yang punya masalah dengan hubungan seks dengan pasangan, sebaiknya berterus-terang. Ini dimaksudkan agar pasangan tidak curiga dan menuduh yang macam-macam. Ungkapkan saja keadaan Anda, dan mengapa gairah seks Anda menurun. Suami atau istri yang baik pasti memahami kondisi tersebut dan tidak akan banyak menuntut, dan mencari jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak.
Kondisi di atas akan menjadi konflik yang berkepanjangan bila masing-masing pihak tidak memiliki toleransi. Biasanya, pasangan yang berbeda keyakinan, sebelum menikah, sepakat untuk saling menghargai keyakinan pasangan-nya dan membuat kesepakatan tentang anak-anak harus mengikuti keyakinan siapa. Nah, tetap-lah pegang janji itu, dan cobalah untuk saling menghargai. Kalau-pun di tengah jalan Anda atau pasangan sepakat untuk memilih satu keyakinan saja, sebaiknya ini bukan karena unsure paksaan.
Timbul rasa kesal boleh-boleh saja, namun tetap harus terkendali. Bila Anda tidak berkenan dengan komentar ataupun teguran dari mertua, jangan langsung mengekspresikan-nya di depan mertua. Cobalah berpikir tenang, ajaklah suami bertukar pikiran untuk mengatasi konflik Anda dengan orang tua. Ingat, segala sesuatu, jika diselesaikan dengan pikiran tenang, hasilnya akan baik.
Perbedaan-perbedaan ini akan terus ada, meski umur pernikahan sudah puluhan tahun. Namanya saja menyatukan dua kepribadian. Jadi, kunci untuk mengatasi perbedaan ini adalah saling menerima dan mengisi. Kalau suami Anda seorang yang pendiam di imbangi dengan jangan terlalu cerewet. Begitupun soal kesenangan.Tak ada salahnya mengikuti kesenangan-nya berlibur kepantai.Mencoba sesuatu yang baru itu indah, selain menghindari pertengkaran, Anda juga mendapatkan pengalaman baru.
Sesibuk apapun Anda dan suami, tetap-kan untuk berkomitmen bahwa kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang utama. Artinya, harus ada waktu untuk keluarga. Misalnya sarapan dan makan malam bersama. Demikian juga dengan hari libur. Usahakan untuk menikmatinya bersama keluarga. Jadi, walaupun Anda dan suami bekerja seharian di luar rumah, namun keluarga tidak terbengkalai. Waktu untuk keluarga dan karier harus seimbang. Anda dan suami harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.